Pernahkah anda mendengar sebuah ungkapan berikut? Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Bagi sebagian besar orang, ungkapan ini masih menjadi sebuah keyakinan dan dipegang betul. Menjadi sebuah penawar kecewa saat segala sesuatu berakhir tidak sesuai harapan. Rasanya bukan sebuah hal yang keliru menerima ungkapan tersebut.
Pun demikian, entah mengapa saya jauh lebih yakin bilamana Tuhan merencanakan, manusia yang menentukan. Tanpa menutup peluang rahmat dan keterlibatan Sang Pencipta, saya lebih menyakini bahwa kita pada dasarnya sudah diciptakan dengan penuh kebaikan, diberi rencana kehidupan yang baik dan tentu saja agar kita mencapai tujuan akhir kehidupan juga dengan baik. Seluruhnya baik tanpa terkecuali.
Lalu kita barangkali bertanya mengapa seluruh kehidupan yang kita jalani, tidak seluruhnya baik? Tentu saja karena keterbatasan manusiawi kita dan kecenderungannya akan segala sesuatu yang memikat membuat kita kerap melupakan peta perjalanan hidup kita. Tawaran lain yang muncul dalam perjalanan kita membuat kita kadang lupa pada jalan yang seharusnya kita tapaki. Hal ini membuat kita sulit menemukan kebaikan dan kadang bila sudah terlalu jauh menyimpang, kita seakan terjebak dalam labirin dan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 Juli 2013
Sabtu, 02 Juni 2012
JALAN MASUK
“Saat pikiran merasa tak ada lagi jalan
keluar, pilihan akhir adalah masuk lebih dalam ke titik persoalan. Menyelami
lebih jauh kerumitan logis dan tekanan emosional dengan tetap PERCAYA bila DIA
setia. Berdialog sejenak bersama Paulo Coelho. BE MAGiS!”
Aku masih berada di kamar kos yang baru kutempati sepekan
belakangan ini. Ruang baru yang harus kutempati, untuk memperhalus kata
terpaksa oleh keadaan dan keterbatasan keuangan. Pikiranku tidak keluar seperti
biasa. Seperti aku menjebak diriku di ruang kamar ini, pikiranku yang
membebaskan pun enggan keluar juga cangkangnya.
Terlintas dalam pikiranku, sekali lagi di dalam pikiran,
perkara-perkara yang kulewati dalam 2 hari belakangan. Sabda pada Jumat pertama
di Kapel Bellarminus kemarin teringat jelas tentang kesetiaan pada perkara
kecil dan perkara besar. Lalu ingatan akan materi kuliah yang kuberikan pada
satu kelas dimana aku memberikan asistensi. Materi yang mengulas tentang
pemujaan berhala baru dalam rupa teknologi. Pertengkaran berulang dengan
seseorang yang kukasihi semalam dan yang paling sulit kukeluarkan dari labirin
pikiranku adalah skripsi.
Menyelam bersama Paulo Coelho yang baru kuawali sepekan ini
kulanjutkan kembali setelah Gunung Kelima menjadi penutup sebelum tidur malamku
kemarin. Entah mengapa penyelaman ini menguatkan keyakinanku pada bagian akhir
yang menguat dalam pikiranku. Skripsi, skripsi, dan skripsi. Ini menjadi
semacam mainstream yang mempengaruhi tindakan dan cabang pikiran lainnya. Maka
kuputuskan
Label:
Galau,
Paulo Coelho,
Paulus Payong,
Skripsi,
Tuhan
Langganan:
Postingan (Atom)

