Pilihan

Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

Menerima

Kita memiliki banyak pengalaman yang dibentuk dari tiap peristiwa yang kita lalui. Sementara itu setiap peristiwa itu hadir dan berlalu, acapkali kita mengenang beberapa diantaranya, sebagian lain mengendap begitu saja tanpa perhatian. Sebagian yang lain hendak dilupakan karena sakit yang dipicu oleh ingatan akan peristiwa tersebut. Sebagian yang hendak dilupakan tersebut biasanya adalah peristiwa yang melukai, menekan atau mempermalukan kita.

Rasanya banyak kali kita ingin melupakan, tetapi kadang melalui sebuah pertanda yang lain dalam kehidupan, ingatan itu muncul kembali. Sebab pada dasarnya memang seluruh peristiwa yang kadung terekam, tak akan pernah benar-benar hilang. Kendati sudah begitu kuat hasrat untuk melupakannya. Sungguh, tak ada yang akan berlalu begitu saja karena apa yang menjadi pengalaman kita tidak pernah meninggalkan kita.

Sebagai gambaran, data apapun yang barangkali kita simpan sebagai file dalam perangkat komputer kita. Kendati telah disimpan rapi atau kelak ingin kita hapuskan dan dibuang ke Recycle bin, pada dasarnya tidak pernah benar-benar hilang. Melalui berbagai teknologi yang semakin mutakhir data yang dibuang toh masih dapat dipanggil dan dimunculkan kembali. Jangan heran banyak file yang

Sabtu, 02 Juni 2012

JALAN MASUK


 “Saat pikiran merasa tak ada lagi jalan keluar, pilihan akhir adalah masuk lebih dalam ke titik persoalan. Menyelami lebih jauh kerumitan logis dan tekanan emosional dengan tetap PERCAYA bila DIA setia. Berdialog sejenak bersama Paulo Coelho. BE MAGiS!”

Aku masih berada di kamar kos yang baru kutempati sepekan belakangan ini. Ruang baru yang harus kutempati, untuk memperhalus kata terpaksa oleh keadaan dan keterbatasan keuangan. Pikiranku tidak keluar seperti biasa. Seperti aku menjebak diriku di ruang kamar ini, pikiranku yang membebaskan pun enggan keluar juga cangkangnya.

Terlintas dalam pikiranku, sekali lagi di dalam pikiran, perkara-perkara yang kulewati dalam 2 hari belakangan. Sabda pada Jumat pertama di Kapel Bellarminus kemarin teringat jelas tentang kesetiaan pada perkara kecil dan perkara besar. Lalu ingatan akan materi kuliah yang kuberikan pada satu kelas dimana aku memberikan asistensi. Materi yang mengulas tentang pemujaan berhala baru dalam rupa teknologi. Pertengkaran berulang dengan seseorang yang kukasihi semalam dan yang paling sulit kukeluarkan dari labirin pikiranku adalah skripsi.

Menyelam bersama Paulo Coelho yang baru kuawali sepekan ini kulanjutkan kembali setelah Gunung Kelima menjadi penutup sebelum tidur malamku kemarin. Entah mengapa penyelaman ini menguatkan keyakinanku pada bagian akhir yang menguat dalam pikiranku. Skripsi, skripsi, dan skripsi. Ini menjadi semacam mainstream yang mempengaruhi tindakan dan cabang pikiran lainnya. Maka kuputuskan