Pilihan

Tampilkan postingan dengan label SOSIALITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIALITAS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

NEGERI PARA BAJINGAN


Membaca harian Kompas dalam hari-hari ini membuat hati miris. Tidak hanya miris, tapi melihat jumlah angka yang fantastis dan relevansinya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat membuat saya bertannya, masihkah ada Politisi yang punya hati? Punya hati untuk sadar diri kalau belum punya kinerja yang membangunkan negeri, sadar diri kalau kerjaannya masih hanya menghamburkan uang rakyat dengan studi banding ke luar negeri, dan tiap hari muncul dengan kisruh politik di televisi. Punya hati untuk merasakan derita rakyat dibalik glamornya pemberitaan Kasus Bank Century, Gayus Tambunan, hingga bom buku di dalam negeri.

Proyek pembangunan untuk gedung baru DPR RI yang akan mulai pada 22 Juni kabarnya menelan biaya Rp 1,138 triliun. Sebagian besar dari total biaya itu diserap untuk pembuatan 560 ruangan anggota DPR yang akan menghabiskan biaya sekitar Rp 800 juta per ruangannya (Kompas.com 25/03). Seolah anggota DPR sudah kehilangan rasa malu, kerjanya ribut mengurus kepentingan partai tapi minta gedung dewan sekelas istana senyaman suasana pantai.

Belum lagi pemerintah dalam hal ini jelas sekali tampak linglung. Periode kepemimpinan untuk kedua kalinya bagi kepala negara seharusnya menjadi masa penting dalam perombakan proses penyelenggaraan negara tapi yang muncul adalah sebaliknya. Pemerintah pun terjebak dalam kekisruhan politik yang tak berujung. Kegamangan dalam bekerja jelas menyeret pemerintah dalam pusaran kesia-siaan. Dukungan rakyat yang besar tidak mendorong pemimpin makin percaya diri. Sebaliknya kekuatan pemerintah dibangun diatas koalisi yang amburadul dan rentan terhadap praktik politik dagang sapi. Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan lagi, benarkah dukungan besar itu dulu berasal dari rakyat atau barangkali dukungan itu sesungguhnya tak pernah ada?

Lihatlah bagaimana kasus-kasus yang terjadi di daerah. Lebih seringlah membaca kabar dari daerah. Temukan bagaimana kondisi masyarakat di daerah. Para petani yang tanahnya dirampas untuk kepentingan penguasa, para petani yang gagal panen, hingga petani yang mampu panen tapi tak mampu mendapat kesejahteraan karena harga komoditas yang rendah. Belum lagi berita dari para pelaksana kebijakan di daerah yang tingkahnya makin aneh. Di Aceh, DPR Aceh mengaku banding terhadap putusan MK yang memutuskan Calon Independen atau perseorangan dapat maju menuju pentas pemilihan kepala daerah tanpa jalur partai. Tindakan ini disertai dengan ancaman pula dengan dalih Aceh punya keistimewaan di bidang politik berdasarkan perjanjian Helsinki. Sikap ini jelas arogan dan mengandung perlawanan terhadap konstitusi dimana putusan MK merupakan putusan final bagi seluruh pihak. Lebih nyeleneh lagi dalam suatu pidato bupati beberapa oknum camat ketahuan menonton video porno sebagai suatu bagian yang dengan semangat dilawan oleh Menkoinfokom, Tifatul Sembiring.

Lalu masihkah kita egois untuk bersikap tidak peduli dengan kenyataan ini. Masihkah kita mengatakan, ya sudahlah. Anda barangkali berpikir bahwa semua hal yang terjadi sekarang seperti sebuah sandiwara. Saya sepakat dengan anda. Tapi sandiwara ini benar-benar nyata dan tidak lucu sama sekali. Jangan kira ratusan juta rupiah untuk satu ruangan anggota DPR itu datangnya dari langit. Uang itu berasal dari uang negara yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan anda, mengurangi biaya kuliah anda yang harganya selangit, untuk membangun jalan raya agar motor dan mobil anda tidak perlu rusak rutin karena jalan berlubang, membangun industri agar anda atau sanak keluarga anda tidak perlu menganggur dan rentan menjadi pelaku kriminal.

Jika anda masih berpikir egois dan barangkali berkata, persetan dengan semua,. Maka sama saja sebenarnya kita melengkapi rencana Negara Gagal Republik Indonesia. Bila pemerintah hanya sibuk bersolek untuk mengadakan perjanjian "Cinta Satu Malam" dengan para kapitalis, saat anggota Dewan sibuk bersandiwara dan menghambur-hamburkan uang negara yang barangkali datang dari pinjaman pula, lembaga-lembaga negara saling main mata, PSSI kerjanya rebutan bola dan melupakan piala, rakyat seperti kita ini makin tidak peduli dan bersikap apatis, maka lengkaplah perangkat negeri baru kita.

Negeri Para Bajingan.... Selamat Datang!

Senin, 27 Desember 2010

SEPAK BOLA DAN IDENTITAS BANGSA

Sportivitas menjadi barang mahal dalam laga pertandingan Piala AFF leg I di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Tampaknya menggambarkan mental arogansi kolonial dan perilaku tukang klaim dari negeri jiran tersebut. Serbuan sinar laser yang mengarah kepada pemain Timnas, khususnya penjaga gawang Markus Horison disinyalir menjadi pemicu kegagalan Timnas selain dari seremoni politisasi ala Nurdin Halid. Sikap demikian ini sesungguhnya gambaran bahwa Malaysia tidak benar-benar akan menjadi saudara serumpun dalam arti yang sesungguhnya.

Publik Indonesia tentu saja kecewa berat dengan hasi l 0-3 yang menjatuhkan harapan yang sempat melambung bersama euforia kemenangan Timnas selepas menekuk Filipina. Terlebih kalah dihadapan publik Malaysia yang beberapa tahun terakhir kerap menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia. Mulai dari kasus Sipadan Ligitan, penangkapan petugas kelautan, penyiksaan TKI, dan banyak kasus lainnya. Jadi, alih-alih persoalan sportivitas di dunia sepak bola, euforia ini juga bagi saya merupakan akumulasi kerinduan rakyat Indonesia atas kembalinya martabat mereka sebagai bangsa yang akhir-akhir ini hilang di telan gemerlap pencitraan elite politik.

Sudah menjadi rahasia public bahwa dalam banyak bidang kita jauh tertinggal. Pendidikan kita yang kian mahal dan mencekik leher rakyat miskin, kebudayaan yang dikomodifikasi untuk keuntungan namun diabaikan nilai-nilai luhurnya, ekonomi yang timpang , politik yang dihujani konflik, dan banyak hal lainnya kita tertinggal. Belum lagi sikap lembek pemimpin kita yang konon katanya Jenderal tapi menghadapi ormas pelaku kekerasan saja tak bisa tegas. Hal ini membuat publik kian terasing dan kehilangan identitasnya sebagai bagian dari suatu bangsa. Maka ketika Timnas dibawah asuhan Alfred Riedl berhasil menembus semi final, euforia dan akumulasi kerinduan itu melambung bersama.

Maka lepas dari persoalan laser dan sportivitas supporter, hasil apapun nantinya putaran akhir Final Piala AFF di Gelora Bung Karno, rakyat Indonesia harus tetap menjaga momentum. Momentum untuk satu suara dalam menjaga martabat bangsa. Sebab bagaimanapun, dari lapangan hijau bangsa kita telah diingatkan untuk selalu menjaga kesatuan dan belajar soal arti penting daya kritis. Maka bila momentum kebangkitan solidaritas ini bisa dijaga dan dilepas dari euforia, jangan PSSI, sekalian NKRI ini pun bisa direvolusi. Saatnya daya kritis dan kesadaran public menjadi penentu kemajuan bangsa kita yang merindukaan rasa bangganya.

Tetaplah berkibar Sang Saka Merah Putih, Tetap Bangga Garuda di Dada.

Minggu, 05 April 2009

KAMPANYE & KEBOHONGAN



Hari ini suasana Semarang riuh dengan deru motor dan pagelaran music The Changcuters di Kawasan Simpang Lima. Aku tidak peduli. Seperti kemarin Gerindra dan hari lalui PDI-P unjuk massa dalam kampanye, hari ini basis nasionalis Jawa Tengah pun disesaki ratusan mungkin ribuan motor dan ratusan angkutan roda empat lainnya.
Baru saja aku mendatangi calon klienku dan menanyakan alasan penundaan janji ketemu tadi sore. Ia sambil tersenyum mengungkapkan kalau tadi ia tengah mengikuti kampanye partai Demokrat. Usut punya usut dia mengatakn kalau ia bertugas sebagai korlap pengerah massa di daerahnya. Dua partai besar PKB dan Demokrat memakai jasanya. Imbalannya? Ia tersenyum sambil mengatakan kalau dari PKB ia mendapatkan sedikit uang dan Handphone. Untuk setiap orang yang diajak ia memberi Rp. 30.000. Padahal dari partai ia menerima lebih dari nilai tersebut perorangnya. Aku hanya tersenyum mendengar penuturannya.
Sebelum membuka Facebook, kemudian di drive D komputer warnet kutemukan hasil jepretan kampanye tadi. Beberapa foto menunjukkan ramainya massa yang hadir di Kawasan Simpang Lima mengikuti kampanye putaran terakhir Demokrat di Semarang. Salah satu foto yang lain membuatku miris. (Lihat sendiri).
Aku berkesimpulan, kalau demokrasi yang sedang kita bangun ini benar-benar masih ternoda oleh kebohongan para pejabat yang katanya Berjuang Untuk Rakyat. ASTAGA NAGA!!!