Minggu, 17 April 2011
REDAM POTENSI BAHAYA, AMBIL JARAK!!
Si pemuda yang tak lagi mendengarkan sahabat-sahabat lamanya semakin antusias dengan dunia barunya. Teman-teman baru, para pembesar yang terkesan memberinya penghargaan, dan banyak dukungan pula. Demi eksistensi diri dan menunjukkan kebosanannya yang selama ini dirasa menjadi no 2, ia memilih menjadi no 1 kendati itu diantara para bajingan sekalipun. Dia kerap menguji sendiri kepercayaan yang diberikan padanya dengan mengabaikan kepercayaan yang ada dan mencari kepercayaan dari yang lain.
Jika anda memiliki seorang teman yang demikian, peragu dan serba menggebu-gebu dalam menyampaikan gagasan, maka ambillah jarak darinya. Orang yang ragu dan malah menganggap diri lebih hebat dari temannya yang lain adalah sikap seorang penghancur. Ia tinggal dalam pandangan orang lain dan hidup dalam sikap labil. Esok ia menuju utara, kelak bisa ke selatan. Tak jelas arah.
Teman yang demikian memiliki potensi bahaya, ambillah jarak darinya. BUkankah sejarah besar Kritus pun dipenuhi orang-orang bimbang dan peragu? Orang-orang yang demikian yang telah memberikan kebenaran untuk diinjak-injak dan membawa kehancuran bagi banyak orang. Tetapi jangan takut, sebab sekalipun Tuhan dibunuh oleh orang-orang demikian, anda memiliki kuasa lebih dari para pecundang yang bimbang ini. Kematian Tuhan di Salib telah membawa kemenangan bagi mereka yang percaya dan hidup dalam kebenaran di masa kebangkitan.
Selamat Memaknai PASKAH!
Jumat, 15 April 2011
CATATAN SETAN MALAM
Tepat pukul 01.00 memasuki Tanggal 16 April
Setelah kemarin berbincang soal spiritualitas bersama Romo Roni, SJ, ada sebuah kesadaran lama yang tertimbun, tumbuh kembali. Mengingat kembali dan lagi-lagi, St. Ignasius de Loyola. Tertegun sejenak mengingat satu doa sederhana. “Ajarlah aku untuk mengubah apa yang masih bisa kuubah, dan menerima apa yang tidak bisa kuubah”.
Setelah beberapa saat lamanya merefleksikan kembali sebuah rentang waktu perjalanan, aku menikmatinya seperti sajian makan penutup yang berasa madu. Pergulatan masih panjang dan perjuangan masih belumlah usai. Pada batas ruang tertentu, aku kembali merenungkan masa-masa indah dan impian besar melihat kebangkitan rumah yang kian rapuh ini. Tapi aku mencoba menelisik kembali, menghindari kelekatan.
Telah kusaksikan pertentangan dan perpecahan seperti kisah kepongahan manusia Babel. Pada satu situasi aku menjadi yang terpongah diantara yang pongah. Aku belajar dan menyadari kepongahan yang ada. Di rumah yang rapuh ini, tinggal jiwa-jiwa para penyesat. Pada hati yang tidak diolah dan diantara pikiran yang terombang-ambing dia merasuk. Membutakan mata, menutup telinga, dan menyapu bersih kesadaran.
Dirumah ini segala macam setan bergentayangan dan aku telah seringkali bertatapan mata dengannya. Suatu ketika aku menjadi setan pula di dalamnya. Bahkan lebih dari itu meraja setan-setan lain yang merasa mereka adalah yang terhebat. Diantaranya ada setan kepongahan, setan kesombongan., setan amarah, setan kemunafikan, setan omong kosong, dan setan-setan yang berselingkuh di balik aroma idealisme.
Azas dan Dasar, segala sesuatu adalah sarana, kata Ignasius. Diciptakan oleh Allah untuk menjadikan kita berkuasa atasnya dan membawa kita pada tiap-tiap butir cinta dan memuliakan Dia. Ia bicara dari pengalaman hidupnya yang pongah dan sombong. Tapi disini di rumah tua ini, semua ini hanya tinggal sejarah. Setiap orang telah kehilangan dirinya. Saling menistakan, saling mendewakan ideologi bukunya masing-masing, saling menunggu kejatuhan yang lain, dan saling menjatuhkan. Sarana yang semakin rapuh tak pernah diberi hati dan diperbaiki. Tujuan apalagi, tinggal menjadi berkas kosong yang tak pernah lagi di kaji.
Setan-setan sedang menjadi, bermimpi membangun kerajaan tapi melupakan bangunan dasar. Mereka punya banyak mimpi dengan membawa panji pembebasan dan intelektualitas. Merekayasa kembali dan memanipulasi identitas iman mereka menurut ruang otak mereka yang kerdil. Menyanjung robot-robot bodoh dan mengisi virus kesia-siaan. Robot-robot pun tak mungkin memiliki kesadaran. Mereka larut dalam wacana dan omong kosong. Hendak meraih rembulan, namun berbulan-bulan tak pernah melihat rembulan. Di pojok-pojok keramaian mereka membangunkan setan-setan lain, bersekutu dan mencari pemimpin. Dalam benak masing-masing, semua hanya untuk sementara. Sampai saatnya tiba, mereka saling berebut kuasa lagi dan akan mencari musuh baru lagi diantara mereka.
Aroma busuk sedang merebak. Hati yang redup dan pikiran yang penuh kesia-siaan sedang menjadi incaran. Aku menuliskannya kembali seperti aku biasa menulis di masa silam. Tak banyak yang belajar dari pengalaman. Tak satupun yang menyadari mimpi menjadi kesia-siaan. Tersisalah manusia-manusia yang menyembah manusia lain, tapi melupakan kuasa dalam hatinya. Mereka berbaris seperti berada dalam satu program di balik tangan sutradara busuk. Mereka sedang tak sadarkan diri.
Lalu aku mendengar isak tangis dan harapan yang tersia-siakan. Aku menarik diri sejenak dalam kekosongan dan dari jarak yang tak pernah kuingat kembali. Aku mendaraskan doa “Ajarlah aku untuk mengubah apa yang masih bisa kuubah, dan menerima apa yang tidak bisa kuubah”.
Pringwulung, Pkl. 01.30, saat setan-setan sedang mengintipku dari balik mendung
Kamis, 14 April 2011
Mencintai Diri Sendiri, HARUS
Rm. Roni SJ tampak antusias membagikan pengalamannya tentang bagaimana membedakan antara orang yang kerasukan dan stres. Sambil menikmati minuman di Kafe "Kontroversi" kami berbagi pandangan soal pengalaman menghidupi sisi spiritualitas.
Awalnya adalah rezeki. Rm. Roni SJ yang gemar melukis baru saja mendapat sedikit rezeki karena lukisannya ada yang terjual dalam hitungan ratusan ribu. Lalu berhubung rezeki dari hobi melukis itu masih ada, kami berkesempatan sedikit menikmati sajian malam itu. Penasaran dengan menu Pu Yung Hai, aku memutuskan memilih mencicipi makanan yang asing bagiku itu.
Obrolan kami berkisar seputar gejala orang-orang yang berperilaku aneh karena faktor stres, kerasukan energi dari alam, kerasukan roh hingga orang yang kerasukan setan. Menurut Rm. Roni SJ, tidak semua gejala bisa disamakan pendekatannya. Adri tampak antusias mendengarkan dan sesekali bertanya. Tidak sadar obrolan mulai bergeser ke soal latihan rohani, harmoni aktivitas, dan bagaimana mencintai diri sendiri.
Soal mencintai diri sendiri. Ini yang sebenarnya mengusik hati. Rm. Roni SJ mengatakan setiap orang harus bisa mencintai diri sendiri, sebelum mencintai orang lain. Sejalan dengan pesan Yesus, "Cintailah sesamamu manusia, seperti engkau mencintai dirimu sendiri". Pesan ini bukan untuk membuat kita menjadi pribadi yang narsis, tetapi pribadi yang mengenal dan mengasihi diri sendiri dengan bijaksana. Bagaimana mungkin kita dapat mengasihi dan membantu orang lain saat kita sendiri tidak mampu mengasihi dan membantu diri sendiri?
Maka penting bagi kita untuk mencintai diri sendiri. Mencintai dengan mengatur keseimbangan hidup antara olah batin dan olah pikir, pola makan, dan kebiasaan-kebiasaan yang lainnya dalam hidup. Sekali lagi untuk itu juga tidak boleh lepas dari Discernment untuk menghindarkan diri dari sesat pikir dan narsis. Mengamati gerak batin akan dapat membantu kita untuk memilih setiap pilihan yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Membantu kita menghindari setiap peluang yang membuat kita makin lupa diri dan larut dalam aktivitas semu atau sikap ragu.
Obrolan cukup hangat. Tapi malam itu memang malam yang tidak direncanakan. Romo Roni SJ harus segera kembali ke Surakarta. Pu yung Hay yang terasa asin pun sudah ludes. Setelah mengucapkan salam satu sama lain dan pamit pulang, satu pertanyaan masih menggelayut dalam pikiranku.
Sudahkah aku mencintai diriku sendiri?
Selasa, 12 April 2011
KEHILANGAN TEMAN BUKAN MASALAH
Sabtu, 09 April 2011
KELUARGA, MASIHKAH BERHARGA?
Saat-saat kritis bisa saja terjadi dalam jalinan kekeluargaan. Bukan tidak mungkin menjadi krisis berkepanjangan. Situasi demikian dalam pertalian keluarga jelas bukan hal yang diinginkan. Kondisi tersebut cenderung menggerogoti sendi-sendi kehidupan kita.
Bila anda memiliki keluarga yang senantiasa hidup dalam disharmoni, belajarlah mengalahkan sikap ego dalam diri kita masing-masing. Ego cenderung menghantar kita pada sikap menyerang dalam keluarga. Serangan demikian ini jelas dapat menggerogoti pula sendi-sendi masa depan anda.
Maka bila ingin memperbaiki hidup, baik bila anda mencoba mulai dari lingkungan keluarga. Memulainya dengan penuh kesadaran dan cinta. Mensyukurinya sebagai harta yang berharga bagi kita.