"Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama-agama " Hans KüngKamis, 30 Juni 2011
Peace Building Training
"Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama-agama " Hans KüngKamis, 19 Mei 2011
KEMATIAN
Setiap kehidupan memiliki jalannya. Beberapa orang dalam kehidupan dapat menguasai lebih banyak kehidupan orang banyak. Sebaliknya banyak orang mengalami kesulitan karena dikuasai oleh sedikit orang. Pada roda kehidupan ada kalanya muncul keadilan diantara barisan ketidakadilan, ada kegembiraan diantara senyap abadi kepedihan.Banyak orang menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Tiap-tiap kita punya cara sendiri untuk memaknai hidup dan banyak kali kita lupa tentang apa itu hidup. Tak terbersit sedikitpun rasa ingin menelisik lebih jauh tentang kehidupan itu sendiri. Semua larut seperti ikan yang sulit memahami dan melihat air.
Satu kali aku berpikir, barangkali untuk memahami kehidupan setiap orang harus dihadapkan pada situasi sebaliknya, kematian. Setiap orang akan benar-benar merasa dan memiliki waktu lebih menyadari kehidupan saat ia dihadapkan dalam suasana duka karena kematian. Lantas bagaimana memahami kematian? Cukupkah dengan membaca berbagai buku yang mengulas dunia pasca kehidupan? Atau dengan membayangkan kegelapan dan kehampaan yang tiada berbatas?
Siapakah gerangan engkau, hai kematian. Mari kita berkenalan ... Agar aku menilisik lebih jauh dan mengenal arti kehidupan.
Selasa, 03 Mei 2011
SEPEREMPAT ABAD
Akhirnya tiba di titik paling bergengsi. Titik panas yang mengharuskanku berkata
"SYUKUR PADAMU YA TUHAN & ALLAHKU".
Aku baru beranjak dalam satu tahap yang semakin berarti bila hati siap menghadapi hari. Menikmati usia yang beranjak tua semoga selaras dengan semakin bertambahnya kadar dewasa. Ini langkah yang panjang. Penuh pergulatan, penuh beban, penuh godaan, dan penuh dengan penyangkalan.
Baru saja aku menyangkalMu, dan Engkau tahu. Aku lelah dan nyaris patah gairah menjalani keyakinan yang berpadu dengan amarah. Kekacauan demi kekacauan serta rentetan persoalan yang bertubi-tubi membuatku lunglai. Engkau tahu dengan baik namun enak benar diriMu menggodaku. Dasar Tuhan yang aneh. Belum tampak olehku waktu jeda untuk menarik nafas agar siap bermain-main lagi denganMu yang memberiku banyak latihan akhir-akhir ini. Barangkali karena ego dan emosi diri masih menutup mata hati.
Tapi aku sungguh ber-SYUKUR. Aku tidak bisa sampai di titik ini dan melintasi seperempat abad yang penuh pergulatan dan buah-buah refleksi yang menyegarkan. Dalam ketidakberdayaan Engkau setia hadir melalui orang-orang yang berarti. Melalui jalanan dan desau angin malam, lewat tembang perdebatan dengan kawan, melalui pergumulan keluarga yang tak kunjung usai, dan teristimewa lewat Bintang Kehidupan yang Engkau beri untuk menerangi sisi gelapku.
Sudah seperempat abad, dan aku masih merasa hebat. Sebab belum juga Engkau memanggil kembali dan menimbang hasil peziarahanku di dunia yang ramai dengan kesunyian. Aku tidak pernah memahami dengan baik, hanya aku belajar menerima dan melihat sisi baik dalam tiap pergumulan yang hadir.
Aku hanya mahluk rapuh yang menjadi kuat karenaMu. Maka bila Engkau berkenan memberi satu tahun baru, maka satu saja pintaku untuk tahun yang akan Kau beri. Ambillah setiap hasrat dan kelekatan yang berlebih dalam hidupku. Bawalah aku dalam daya yang menghidupkan, CINTAMU TUHAN.
Senin, 25 April 2011
HEY PROBLEM, I HAVE A BIG GOD
Suasana super hangat Semarang tidak banyak berubah. Hanya keteduhan di Wisma Mahasiswa Drijarkara sedikit berbeda saat kujejakkan kaki di sana. Lebih tenang dan menyejukkan. Dalam kondisi yang belum pulih dari KDRT (Kena Demam, Radang Tenggorokan) dan nyaris tumbang di bis tanpa kursi nyaman, aku melaju ke kota tempat sebagian energi diri pernah kutorehkan.Hari ini membawa setumpuk gelisah dan rasa jengah. Kalau dulu dari Semarang ke Jogja menimba rahmat, sekarang sebaliknya menimba kekuatan. Tak seperti yang direncanakan, keinginan menyelesaikan tumpukan persoalan yang dulu terabaikan di Semarang, malah berubah menjadi tantangan lagi. Beberapa teman di sana hadir layaknya seorang guru. Aku mendengar seperti balita yang tiada mengerti apa-apa. Belajar menundukkan kepala dan meletakkan hati di alas kaki.
Mulai dari ruang keluarga hingga Kantor Pelayanan Keuskupan. Dari warung pinggir jalan hingga tengah pemakaman Kali Sari. Bayangan masalah tak terpisah dari badan. Lalu semua menguap dalam dialog batin. Simpuh sujud di kapela memberi nuansa berbeda. AKu belajar lagi dari NOL.
Baru saja terpikir dan sesaat membuka Facebook, sebuah status teman persis berbunyi seperti suara yang menggema di dalam otakku. Maka dengan kerendahan diri aku berkata: "Mari Masalah, Aku Punya Allah yang BESAR". Syukur boleh mengalami proses pembelajaran.
Kuserahkan padaMu keluargaku dan semua yang bergejolak di batinku dan seluruh setan yang bersarang di kepalaku. Ambillah Ya Tuhan dan cukuplah Engkau bagiku.
Selasa, 19 April 2011
INI SOAL RENDAH HATI

Banyak orang boleh bicara kerendahan hati. Termasuk saya. Saya bicara soal kerendahan hati, karena saya termasuk orang yang sulit rendah hati. Termasuk menghadapi orang-orang yang tidak punya hati.
Saya baru saja menikmati ulang Buku The 8th Habit halaman awal. Menemukan beberapa hal mendasar di dalamnya. Sedari awal gambaran pendakian diberikan sebagai sebuah argumen penyempurnaan buku. Lebih dari itu, pendakian gunung baru itu merupakan sebuah ungkapan kerendahan hati bagi saya untuk seorang Covey. Ia menyadari sebuah karya bukan hasil yang muncul tiba-tiba. Sebuah karya besar melibatkan tim kerja yang besar. Sementara itu, kebesaran yang lebih utama adalah kebesaran hati.
Saya kembali ke soal kerendahan hati yang sulit saya lakoni. Terlebih menghadapi orang-orang yang sulit menemukan kesadaran diri seperti saya. Mereka telah melompat dan merasa mendarat di puncak gunung tertinggi. Memandang orang lain rendah ketika lompatannya belum usai. Saya menertawakan diri sendiri yang kadang merasa lucu menghadapi tingkah pongah manusia yang suka lupa diri. Saya tertawa, karena saya merasa tahu soal itu. Saya sering mencobanya lho. Sering pongah dan lupa diri. Wajar kalau kadang saya suka mengingatkan yang lupa diri.
Saya menemukan kata kunci yang sederhana tapi sungguh bermakna. Kata-kata Bunda Theresa "Hanya sedikit diantara kita yang bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi semua orang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang BESAR". Sangat mendalam dan penting untuk direfleksikan. Banyak kali, kita menjadi terlena. Barangkali sebut saja saya, agar anda merasa tidak dituding. Terlena dengan wacana dan gagasan besar. Suka diskusi sampai lupa diri dan anak isteri. Tetapi kita kerap lupa melangkahkannya dengan cara sederhana. Beranjak dari hati. Itulah langkah awal sebuah aksi, bukan semata diskusi para pendusta ideologi. Selamat belajar RENDAH HATI bersama saya. Berkah Dalem Gusti!