Pilihan

Sabtu, 28 Februari 2009

Tahun Kaum Muda 2009 dan Generasi Mahasiswa KKN

Tahun 2009 merupakan masa yang diberi khusus oleh Keuskupan Agung Semarang bagi Kaum Muda. Tahun Kaum Muda, demikian kira-kira kita menyebutnya. Sebuah bentuk perhatian, keprihatinan, dan harapan bagi gereja muda yang kelak akan menjadi wajah gereja dan Kristus yang hadir ditengah dunia.
Kaum muda Katolik tidak statis dan terpusat pada satu ruang dan waktu. Kaum muda tersebar di ranah pendidikan, budaya, social, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Setiap saat melahirkan generasi baru yang selayaknya siap menopang aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mahasiswa katolik adalah satu bagian penting yang tak boleh dilupakan dalam konteks kaum muda katolik. Dalam sejarahnya, mahasiswa katolik telah menyumbangkan perannya secara signifikan dalam sejarah panjang bangsa ini. Melalui PMKRI yang lahir di tahun 1947 di Yogyakarta, telah banyak kader mahasiswa katolik menjadi ujung tombak perubahan tatanan masyarakat kita. Semua itu adalah catatan sejarah kendati sumbangan yang besar itu kian hari kian redup oleh karena tergerusnya minat dan panggilan untuk berpartisipasi dalam upaya perubahan bangsa ini menuju kondisi yang lebih baik ; adil, berprikemanusiaan, dan sejahtera.

Generasi KKN
Mahasiswa adalah agen perubahan. Demikian kata aktivis dan banyak kalangan untuk menunjukkan sisi positif panggilan dan perjuangan mahasiswa dalam pelbagai persoalan bangsa ini.
Benarkah demikian?
Dalam catatan sejarah perjuangan gerakan kemahasiswaan demikianlah memang adanya. Tidak sedikit mahasiswa yang mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawanya untuk bisa mendorong terjadinya perubahan. Perubahan atas pemerintahan yang otoriter, sistem yang bobrok, sikap represif dan pelbagai bentuk ketidakadilan lainnya yang berlangsung dalam banyak aspek kehidupan kita.
Namun bila kita melihat realita sosial sekitar kita, di dalam lingkungan kita sendiri sebagai mahasiswa, jauh lebih banyak mahasiswa dalam ketidaksadarannya justeru menjadi agen perubahan yang membuat masyarakat dan bangsa kita terperosok. Secara tidak langsung, mahasiswa dalam rantai panjang persoalan bangsa ini justeru meneruskan budaya dan pola pikir “titipan” yang pada akhirnya mendestruksi tatanan keadilan yang telah dengan susah payah diperjuangkan oleh sebagian rekan mereka.
Mahasiswa pula yang menjadi agen yang merubah tatanan masyarakat, norma dan moral budaya secara terbalik akibat derasnya arus informasi yang tidak mampu dipilah lewat pelbagai media yang kian marak. Mahasiswa menjadi korban budaya pop barat yang sebenarnya tidak siap untuk diserap, diserang lewat pelbagai media dalam ruang dan waktu yang berbeda. Seolah tanpa itu semua, mahasiswa menjadi pribadi yang tidak bebas dan menemukan jatri dirnya. Tidak merasa Gue Banget tanpa menggunakan busana model terbaru dan merek ternama, makan di resto-resto Amerika, clubbing, dan aktivitas lain yang selaras dengan gaya hidup kaum muda pop di barat.
Mahasiswa model ini adalah kita yang lebih pantas disebut sebagai Generasi Mahasiswa KKN. Generasi yang taunya hanya Kuliah, Kos, dan Nongkrong. Seluruh aktivitas dan ruangnya tidak pernah jauh dari tiga hal tersebut. Kuliah diapandang sebagai satu syarat menjadi manusia ber-gelar, Kos sebagai ruang aktualisasi sikap individualisme diri, dan Nongkrong menjadi satu ritual baru dimana sikap hedon diwujudkan dengan kesenangan.
Mahasiswa generasi KKN adalah perwujudan oposisi kuat terhadap gerakan mahasiswa itu sendiri. Secara kasat mata, mahasiswa justeru berperang melawan dirinya sendiri. Hal inilah yang menggerogoti tubuh besar gerakan kemahasiswaan. Melemahkan dan meracuni strukur perjuangan kaum intelektual kampus. Mahasiswa kemudian harus bertarung pada medan kampus dengan wacana mereka sendiri. Bertarung untuk membuktikan sikap mana yang lebih penting dan utama. Pada titik ini mahasiswa kehilangan fokus peran dan tanggungjawabnya sebagai elemen penting bangsa ini.

Satu Hulu Beda Muara
Bila gerakan mahasiswa yang kian lemah itu masih memiliki bentuk dan terstruktur pada titik yang sama, maka sebaliknya mahasiswa generasi KKN secara sporadis tersebar disetiap ruang. Menjadi yang dominan pada setiap ruang. Kendati tanpa komando, toh mahasiswa generasi KKN adalah mahasiswa yang oleh ketidaksadarannya berpengaruh besar dalam memperlemah posisi rekannya di gerakan kemahasiswaan. Dan hal ini jelas menguntungkan penguasa dan pengusaha yang sepanjang sejarah kerap menjadi sasaran kritik intelektual kampus dan gerakan kemahasiswaan.
Memang tidak terlalu tepat membagi karakteristik mahasiswa hanya pada mereka yang suka memperjuangkan visi kebangsaannya lewat gerakan mahasiswa dan mereka yang bersikap apatis dan memilih menjalani hidup tanpa kepedulian besar akan dinamika sosial kemasyarakatan. Kendati demikian ini adalah pembacaan yang dalam hemat penulis berlangsung dalam kurun waktu terakhir ini.
Memang kedua karakter itu berada dalam tubuh yang sama. Mahasiswa memang adalah manusia kampus yang hidup dalam ruang yang sama namun bergerak menuju suatu ruang yang berbeda. Bila arah gerakan kemahasiswaan diliaht dari sikap memperjuangkan dan menyatakan visinya di setiap aktivitas gerakan, maka berbeda dengan mahasiswa generasi KKN. Tidak ada yang mempu memahami dan memprediksi secara utuh visi dan mimpi mereka. Tidak ada yang mampu memahami secara utuh hendak kemana generasi ini. Mahasiswa pada akhirnya berada pada keadaan satu hulu beda muara.

Membangun Ruang bagi Kesadaran
Tidaklah bijak saat melakukan klaim sepihak atas sebuah masalah yang dihadapi bersama. Gerakan mahasiswa menuding pilihan lain diluar mereka sebagai sebuah posisi yang tidak cerdas, sementara sebaliknya generasi mahasiswa KKN memandang pilihan di gerakan adalah kesia-siaan.
Situasi ini justeru yang melemahkan tidak hanya gerakan mahasiswa maupun generasi mahasiswa KKN ini tetapi juga proses perubahan yang selalu diimpikan seluruh elemen bangsa ini. Sama sekali tidak produktif terhadap laju gerakan kemahasiswaan yang memimpikan sebuah bangsa yang adil dan sejahtera.
Adalah lebih baik dan hemat energi ketika setiap elemen gerakan mahasiswa membangun ruang yang lebih besar dan mampu membawa mahasiswa generasi KKN untuk sampai pada kesadaran mereka atas panggilan dan peran di dalam masyarakat. Membangun ruang yang edukatif dan dialogis untuk menunjukkan dampak ketidakpedulian kita terhadap situasi genting bangsa ini yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan soal-soal baru. Sinergi antar gerakan, komunitas, maupun pers mahasiswa adalah satu dari sekian banyak pilihan dari amunisi terakhir peperangan melawan kapitalisme global yang diproteksi oleh regulasi yang tidak memihak rakyat. Regulasi yang dipermainkan demi keuntungan oleh pemerintahan yang antipati terhadap kebutuhan rakyat dan bangsa ini.
Demikian halnya mahasiswa generasi Kuliah, Kos, dan Nongkrong untuk mulai menyadari banyak hal dalam dirinya yang mampu mengubah hidup banyak orang. Bahwa setiap mahasiswa adalah intelektual kampus yang memiliki keunikan sendiri untuk disumbangkan dalam perjuangan melawan pembodohan yang terjadi justeru di lingkungan pendidikan kita.
Dengan demikian secara khusus mahasiswa katolik yang hidup disetiap kampus dapat menghidupi semangat yang disuarakan oleh Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 dalam rangka membangun habitus baru. Rada mirip dengan seruan Yesus dalam kisah dimana Sang Guru membangkitkan anak muda di Nain (Luk.7:11-17). Maka kaum muda katolik, khususnya mahasiswa katolik, mari bersama menyadari keberadaan dan peran diri terhadap gereja dan bangsa. Bangkit dan bergeraklah.

Semoga pada akhirnya mahasiswa katolik Indonesia bersatu tidak hanya menjadi laskar pelangi, tepai juga menjadi laskar pembaharu!!

Wassalam!

Thomas sembirinK
Anggota PMKRI Cabang Yogyakarta St. Thomas Aquinas
Email n FS : sembirink86@yahoo.co.id
Facebook : sembirink@lycos.com
Weblog : http://sembirink.wordpress.com

Jumat, 30 Januari 2009

Kaum Muda IKKSU


Kaum Muda Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara di Semarang
(Generasi Pewaris Negeri)

Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara di Semarang

Kamis, 01 Januari 2009

MELINTASI MASA DALAM PERSAHABATAN

Aku bersama teman-teman PMKRI Jogja ngumpul bareng menjelang tahun baru. Ide spontan yang kusambut dari Rosa menjadi lebih asyik. Bersama Rosa, Oland, Martin, Colanda, Putri, dan France kami mengikuti misa pergantian tahun di Kota Baru yang dipimpin Rm. Inug, SJ.
Usai misa kami nongkrong sebentar di depan gereja menyambut detik-detik pergantian tahun bersama umat yang lain. Sambil menikmati segelas kopi hangat dan jagung rebus yang disediakan Mudika Kota Baru kami ngobrol seputar catatan akhir tahun PMKRI. Saking asyiknya ngobrol kami lupa kalau kami sebenarnya orang yang terasing dari keluarga nun jauh disana. Begitu hangatnya suasana bersama.
Saat akhirnya detik-detik pergantian tahun itu tiba, kami saling berangkulan dan berdoa bersama agar diberi kekuatan dan harapan di tahun yang baru, sebagai pribadi kader maupun secara organisasi PMKRI. Diharapkan PMKRI di tahun 2009 menemukan titik balik pencerahannya. Setelah sempat bercanda kami melanjutkan dengan doa pribadi di depan kandang natal.
Perjalanan pun berlanjut ke daerah Code. Sambil nobrol, teh hangat, kopi, Susu Jahe dan semangkuk mie rebus menjadi hidangan. Obrolan kami pun ngalor ngidul, mulai dari Jogja sampai Palestina. Mulai pribadi sampai PMKRI. Kebiasaan berdiskusi itu tetap tak lekang. Hal yang masih selalu kubanggakan dari PMKRI generasi kami. Kami juga mendiskusikan seputar keprihatinan akan persoalan PMKRI di tingkatan cabang maupun nasional. Sambil ngobrol jeda SMS tahun baru pun berdatangan ke ponsel teman-teman.
Melaju lagi di Tugu Jogja. Kami foto bersama dan meluapkan kegembiraan bersama ratusan anak muda dalam dan luar kota yang ada di sekitar situ. Tak tampak pengawasan khusus Polantas. Semua orang larut dalam kegembiraan Tahun Baru. Bunyi terompet dan raungan motor sampai klakson menyemarakkan suasana, terkadang memekakkan telinga. Kami melanjutkan perjalanan lagi.
Alun-alun kota Jogja. Kami tertawa dan menertawakan Oland yang mengadu peruntungannya menembus pasangan beringin alun-alun Selatan yang santer terdengar keunikannya. Banyak kalangan berkerumun di sana merayakan tahun baru. Ada yang bergerombol cekikikan, ada yang berpelukan mesra dengan pasangannya, dan ada yang mengais rejeki dengan mencari direrumputan barangkali ada barang berharga yang terjatuh dan bisa dipungut.
Petualangan dan pengalaman begadang sampai hari terang sungguh berkesan. Kami menyambut hari pertama 2009 dengan kebersamaan yang penuh harapan. Seperti kata Romo Inug dalam kotahnya yang mengutip sebuah lagu. Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu. Membuat segalanya makin indah. Terima kasih Tuhan atas tahun 2008 yang lalu dan 2009 yang kau masih kau perkenankan untuk kujalani. Semoga kerapuhan di 2008 diperbaiki di 2009 dan kebaikan ditahun yang lalu masih dapat kumiliki dan lebih kukembangkan dalam hidup sehari-hari. Terima kasih atas persahabatan!!

Perjalanan Menjelang Akhir Tahun

Tanggal 29 Desember 2008. Aku melaju menuju Semarang sekitar pukul 17.00 WIB bersama Max (rekan di PMKRI Yogyakarta). Dari kota Gudeg Jogja aku memang memintanya menemaniku ke Semarang dengan mengendarai motor. Esoknya aku harus mengikuti training. Setelah itu kantor libur dan ini kesempatan buatku kembali lagi ke Jogja bersama Max dalam hitungan singkat.
Dalam perjalanan kami bercerita soal pentingnya pemahaman organisasi bagi kader-kader gereja dan bangsa. Max sepakat dengan pandanganku bahwa kader tanpa pemahaman organisasi yang baik, pastilah bukan kader. Maka penting bagi setiap orang yang hendak menjadi kader untuk terbuka dan belajar lebi banyak untuk meningkatkan kemampuan diri baik kecerdasan otak maupun kualitas watak.
Selama perjalanan menuju Semarang aku baru tahu kalau Max ternyata belum punya SIM. Namun aku percaya saja ia yang menyetir motor. Tak ragu kalau terjadi soal di jalanan yang padat. STNK motor juga sudah kadaluarsa, tidak membantu malah bisa saja menyulitkan.
Sempat dihadang hujan, namun dengan visualisasi ala D Secret dan keyakinan akan perlindungan Tuhan semua pada akhirnya baik. Hujan tidak mengganggu sampai kami tiba di Ambarawa. Aku menawarkan Max untuk mampir ke rumah Nino yang berada di belakang kelenteng Ambarawa, tidak ada dalam skenario visualisasi untuk mampir. Maksud hati hendak menyampaikan selamat natal. Tidak ada Nino, ya keluarga yang ada. Sayang saat hendak mampir, tak seorangpun yang bisa di jumpai kecuali kerabat Nino disekitar rumah itu. Kami putuskan melanjutkan perjalanan. Namun baru melaju sebentar Max mengatakan Hpnya raib, sendalnya juga putus. Setelah mencari dengan gelisah kami putuskan mengabaikan saja dan merelakan HP tersebut. Baru hendak melanjutkan perjalanan, motor juga ikut-ikutan mogok. Eeee ... hujan juga turun mengguyur kota Palagan Ambara. Apesssss. Batinku.
Max mengungkapkan kehilangan terbesar adalah no penting yang ada dalam HP bukan HP, katanya. Tapi mengingat ketidaknyamanan beruntun ini, Max mereka-reka kejadian ini dan mempertanyakan kira-kira tanda apa yang tengah terjadi. Aku memintanya mengabaikan saja tanpa harus dianggap sebagai tanda-tanda. Aku mengatakan bahwa ini tandanya kita akan dapat sesuatu yang lebih besar nilainya dibandingkan kehilangan HP. Kami melanjutkan perjalanan. Saat tiba di Ungaran ia mengatakan sekali lagi keinginannya untuk mencari Romo Sugondo, SJ yang merupakan orang tua angkat baginya selama dulu berada di Sorong, Papua. Menurutnya Romo tersebut setelah dari Papua berada di Ungaran. Sambil menunjuk Pasturan Jesuit di Girisonta. Mudahan kalau tidak bertemu hari ini, ya besok. Ujarku. Saat aku ke kantor mengikuti training kamu boleh berjalan-jalan dan belajar banyak hal dengan Lukas. Tambahku.
Sesampai di Sekretariat Semarang, Lukas pak Ketua Presidium PMKRI Cabang Semarang menyambut dengan senyum. Aku bersyukur, akhirnya sampai juga. Setelah menceritakan pengalaman perjalanan kami Lukas hanya tertawa kecil sambil senyum-senyum. Sisa malam itu kami manfaatkan untuk mendampingin Max belajar keorganisasian terlebih seputar pemahaman akan pentingnya isu strategis Gerakan Kemasyarakatan. Selain itu Max diajak mengikuti misa dan temu aktivis bersama Romo Pendamping Mahasiswa yang dulu pernah berkarya di Wisma Drijarkara, Semarang. Aku meminta Lukas mendampinginya. Max senang mendapat ruang baru menambah luasnya wawasan. Max juga girang bukan kepalang ketika tahu, orang yang dicarinya itu adalah romo yang menyelenggarakan pertemuan aktivis tersebut. Artinya si Max akan bertemu dengan orang yang begitu dihormati dan dicarinya. Ini sesuatu yang lebih bernilai dari pada nilai HP yang hilang di jalan. Ujarku. Max tersenyum bahagia. Aku sendiri tertidur pulas saat Max masih ngobrol dengan rekan-rekan di Semarang.

Tanggal 30 Desember 2008. Keesokan harinya. Aku bangun dan melihat jam menunjukkan pukul 6 pagi. Sempat kulihat Lukas menggenjot sepedanya meninggalkan wisma, ke rumahnya. Bersiap mengikuti acara hari itu. Setelah mandi aku baca koran pagi dan menyapa Romo Edy dan seorang bapak yang ada disitu. Mas Luluk ikut nimbrung. Pembicaraan di ruang baca itu sampai pada persoalan gempuran Israel terhadap wilayah Gaza, Palestina. Bapak yang ada disitu mengungkapkan kegelisahannya atas isu Palestina yang tidak banyak digubris apalagi dikecam pihak non-muslim. Menurutnya kalangan katolik terutama harus punya suara tegas terhadap kekejaman Israel yang serakah. Persoalan di Palestina bukan soal agama, melainkan persoalan kebebasan dan hak hidup sebuah bangsa. Maka sudah layak dan sepantasnya atas nama kemanusiaan kita bersikap atas kekejian Israel yang memborbardir wilayah Palestina. Aku setuju.
Saat hendak menuju kantor, aku baru sadar kalau spion motor itu hanya satu. Padahal di Semarang kesalahan kecil tidak dapat ditolerir. Karena takut ditilang, STNK belum diperpanjang, dan urusan bisa tambah panjang aku berusaha mencari spion kanan yang mungkin ada di Wisma Drijarkara. Mas Luluk memberiku satu spion kecil dan bisa dipakai. Kendati tidak seimbang. Tapi cukup menambah kepercayaan diri melaju di jalanan utama kota Semarang. Kok gak kepikiran sejak di Jogja. Batinku sambil garuk-garuk kepala.
Usai training sore itu pukul 17.00 WIB dan setelah berbasa-basi dengan Max dan Lukas seputar acara mereka hari itu, kami putuskan kembali ke Jogja saat itu juga. Takut keburu hujan. Setelah pamitan dengan rekan-rekan dan Romo Edy kami melaju meninggalkan Semarang.
Sayang lagi, dugaan kami salah. Keputusan berangkat saat itu juga ternyata membuahkan pengalaman mengesankan. Hujan turun mengguyur kami. Kami terpaksa mencari tempat berteduh. Agak nyesal gak bawa mantel. Menunjukkan kami yang tidak siap berangkat dengan sigap sebelumnya dari Jogja. Kami hanya bisa tertawa. Setelah menunggu sekitar setengah jam di emperan warung yang gelap itu kami putuskan melanjutkan perjalanan, kendati hujan belum reda. Baru sekitar lima menit melaju kami harus mencari tempat berteduh lagi. Hujan makin deras dan tidak bersahabat. Sulit mencari tempat berteduh di jalur padat Semarang-Ungaran. Yang ada hanya halte tua yang atapnya bocor. Kami berteduh disitu. Hujan tetap saja tak reda. Menunggu sekitar 30 menit lagi kuajak Max melanjutkan perjalanan. Mengambil resiko kehujanan sedikit, sampai menemukan tempat berteduh yang cocok. Tempat berteduh dengan makanan dan minuman penghangat badan. Sambil menembus hujan yang malah tambah deras, kami akhirnya menemukan sebuah Warung Tegal yang cukup nyaman. Kami putuskan berhenti disitu sambil makan malam.
Setelah makan dan beristirahat cukup lama. Hujan tak juga reda. Aku menyempatkan diri tidur diemperan warung itu. Radang tenggorokanku tak bisa dikompromi. Cukup lama juga aku menyempatkan diri untuk tidur.
Tak jua hujan reda, kami akhirnya melanjutkan perjalanan lagi. Nekat menembus hujan. Masih sempat berhenti dua kali di wilayah Magelang karena hujan juga. Sampai akhirnya kami tiba di Jogja. Alhamdulilahhhhhh.
Bagiku pengalaman ini menunjukkan betapa semangat diri saat masih muda itu begitu hebatnya sampai mengalahkan logika untuk antisipasi keberangkatan. Selain itu perjalanan menjelang akhir tahun ini bagiku makin menguatkan keyakinanku bahwa Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Kendati rintangan dan kendala tak sesuai harapan, kendati bayangan indah perjalan hidup tak kunjung nyata, kasih dan perlindungannya satu-satunya yang tetap nyata.

En Todos Amar y Servir!