Pilihan

Minggu, 19 Desember 2010

BERGABUNG DI HMJM USD


Kawan-kawan yang tertarik untuk bergabung bersama kami di HMJM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, silahkan klik FORMULIR HMJM. Download formulirnya, isi data, dan kirim ke hmjm.usd@gmail.com

Konfirm bila telah dikirim melalui SMS ke 0812 2729 2686


SalAM!

Kamis, 16 September 2010

KAUM MUDA AYO GABUNG DI MAGiS YOGYA

MAGiS
SEBUAH MODEL PENDAMPINGAN
ORANG MUDA


Bagi anda kaum muda yang tertarik dengan pendalaman Spiritualitas Ignasian, bergabunglah dalam Program MAGiS : Pendalaman Spiritualitas Ignasian. Tertarik? Silahkan kunjungi dan Klik Link Berikut : Pendaftaran Magis

PROFILE


MAGiS adalah program pendampingan bagi orang muda berbasis Spiritualitas Ignatian. Awalnya, MAGiS08, muncul di Yogyakarta sebagai rangkaian program World Youth Day di Sidney, Australia, Juli 2008. Program semacam ini sudah terlaksana sejak WYD di Paris, Roma, Toronto dan Cologne (MAGiS05).

MAGiS08 terlaksana berkat kerjasama lima Konggregasi yang menghidupi spiritualitas Ignasian yaitu Society of Jesus (SJ), Faithful Companions of Jesus (FCJ), Society of the Sacred Heart (RSCJ), Loreto Sisters (IBVM) dan Religius sisters of Charity (RSC). Program ini diperkenalkan di Yogyakarta oleh Edward Shuttleworth (koordinator program) dan Jenni Winters (direktur pembinaan) pada bulan Maret 2007.

Banyak orang berpendapat bahwa orang muda tidak lagi tertarik dengan hal-hal rohani. Hal ini diindikasikan dengan mandegnya mudika di bebe-rapa paroki dan menipisnya anggota di organisasi katolik. Banyak orang muda tidak lagi pergi ke gereja untuk perayaan ekaristi apalagi terlibat dalam kegiatan paroki.

Jaman modern menawarkan hidup yang penuh kenikmatan, kemudahan, perubahan dan per-kembangan teknologi dan komunikasi yang pesat. Di jaman yang sarat tawaran ini, orang muda me-ngalami kekaburan nilai, kebingungan dalam me-milih dan ketidakjelasan arah hidup. Kegiatan tradisional gereja sepertinya tidak lagi menjawab kebutuhan dan kerinduan rohani orang muda katolik. Mereka mengalami ketegangan. Di satu sisi mereka rindu untuk mampu mengintegrasikan iman ditengah arus globalisasi, di sisi lain kate-kese yang ada tidak lagi memadai dengan kebutuhan mereka.

Setelah sukses dengan MAGiS08 dan MAGiS09, Suster-suster FCJ membuka kembali program MAGiS10 (angkatan ketiga) untuk dilaksanakan di Yogyakarta. MAGiS Yogya lahir dari dua kerinduan :
Untuk mendampingi orang muda katolik yang haus akan relasi yang lebih dalam dengan Allah.
Untuk membagikan spiritualitas Ignasian.

Magis adalah kata dari bahasa latin yang berarti lebih. Magis adalah salah satu semangat spi-ritualitas Ignasian yang berarti melulu memilih yang lebih demi semakin luasnya pelayanan dan semakin besarnya kemuliaan Allah. Spiritualitas Ignasian adalah cara hidup dan cara berelasi dengan Allah yang diwariskan oleh St. Ignatius Loyola. St. Ignasius mengajarkan kepada kita untuk memandang dunia dengan mata Yesus Kristus. Cara pandang ini membantu untuk me-mahami bahwa asal dan tujuan hidup kita adalah Allah, Sang Pencipta. Bagi Ignatius semua ciptaan yang ada di dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Selanjutnya, di hadap-an aneka sarana tersebut kita diajak untuk meneliti keinginan-keingingan pribadi lalu mem-pertimbangkan dan memilih sarana yang sesuai dengan kehendak Allah. Intinya adalah, kita diajak untuk ”mengatur hidup”. Buku Latihan Rohani adalah warisan Ignasius tentang bagaimana mengatur hidup tersebut.

Program MAGiS Yogya dikemas dalam kira-kira sepuluh kali pertemuan dan dilaksanakan selama satu tahun. Program MAGiS dilandasi oleh tiga pilar yaitu persahabatan, kerohanian dan pelayanan.

Persahabatan: komunitas memberi kesempatan agar tiap anggota dapat menjalin persahabatan dengan saling menerima, mendukung dan berbagi pengalaman.
Kerohanian: membantu anggota membangun relasi cinta dengan Allah. Mereka dibantu me-ngenali pengalaman akan Allah, memahami tujuan hidupnya dan bagaimana menanggapi cinta Allah dalam hidup.
Pelayanan: iman tidaklah hidup dalam ruang hampa. Pelayanan adalah tindakan konkret iman. Diharapkan dalam hidup sehari-hari, peserta mampu menghayati iman dengan pelayanan yang didasari oleh dedikasi dan kemurahan hati. Tujuannya adalah demi terwujudnya masyarakat yang lebih baik.

Jika kamu orang muda katolik yang mencari jati dirimu, yang makin ingin paham arah hidup yang memberimu kebahagiaan, yang memiliki kehausan untuk berjuang dan melayani mereka yang tersingkir dan miskin, bergabunglah dalam komunitas MAGiS YOGYA.

Jika kamu orang muda katolik yang mencari jati dirimu, yang makin ingin paham arah hidup yang memberimu kebahagiaan, yang memiliki kehausan untuk berjuang dan melayani mereka yang tersingkir dan miskin, bergabunglah dalam komunitas MAGiS YOGYA.

Berikut File yang dapat didownload untuk keperluan form pendaftaran sebagai anggota baru magis . Setelah diisi silakan diberikan ke Susteran FCJ(Suster FCJ) / Via Email ke chubee12002@yahoo.com dengan subject "pendaftaran anggota magis"

Sabtu, 20 Februari 2010

Kaum Muda Garda Depan Perubahan

Pergerakan kaum muda dalam dinamika kehidupan berbangsa lambat laun mulai mengemuka. Momentum peringatan sumpah pemuda selalu digunakan sebagai ajang untuk menunjukkan hasrat kaum muda dalam mengambil peran lebih membangun bangsa ini. Jargon saatnya kaum muda memimpin diusung untuk menunjukkan betapa kaum muda juga punya impian untuk mengambil bagian dalam menuntaskan segudang persoalan bangsa ini. Terlepas dari isu politis, pernyataan dan teriakan-teriakan kaum muda menunjukkan adanya gap dalam kepemimpinan bangsa ini.
Sekalipun dalam pandangan saya, kaum muda sudah layak dan sepantasnya menentukan nasib negara ini dengan terlibat dalam perubahan sistem yang bobrok, tetapi pandangan agar kaum muda tidak menjadi generasi peminta-minta pun semestinya bagian dari pandangan kita bersama. Kaum muda sepatutnya memperjuangkan idealisme dan gagasannya dalam rangka merubah tatanan yang memprihatinkan di negeri ini, dengan pertama-tama tidak melupakan lingkungan kaum muda itu sendiri. Mengharapkan mereka yang berada dalam kemapanan sistem memberi kesempatan kepada kaum muda laksana impian yang kebablasan.
Untuk melepaskan persepsi kaum muda sekarang sebagai generasi peminta-minta maka sudah saatnya kita mengembangkan jaringan dan menunjukkan eksistensi serta potensi kita dalam mewujudkan impian besar bangsa. Impian menuju bangsa yang sejahtera, adil dan makmur. Menunjukkan eksitensi dan potensi dengan melepaskan diri dari tekanan status quo, serta membangun kekuatan sendiri. Kekuatan dari dan oleh kaum muda untuk Indonesia.
Mengikat diri dalam sistem mapan tanpa adanya ruang perubahan adalah kesalahan terbesar kaum muda. Kaum muda yang dinamis dan idealis mestinya mampu melihat belenggu di belakang sistem yang mapan. Sistem yang menempatkan kita sebagai pencari karir politis dan menjebak kita dalam putaran waktu perubahan yang sangat lamban. Ini sama sekali bertentangan dengan nilai utama perjuangan, sebab perjuangan tidak terpaku pada tahap-tahap dan kelas-kelas peran. Ia terbebas dari semua perspektif sempit tetapi tergantung pada prinsip kolektivitas. Perjuangan hanya berhasil bila kita berhasil menghapus paradigma tahapan peran dan menempatkan suatu perjuangan kolektif sebagai modal bersama menuju impian.
Temu Konsultasi Publik dan Sosialisasi RUU Kepemudaan di University Centre UGM pada2007 silam memunculkan suatu kecenderungan yang menempatkan kaum muda pada posisi pejuang karir. Pembatasan usia pemuda di rentang 18 hingga 35 tahun serta asumsi Deputi Menteri Pemuda dan Olahraga tentang karier dari kepemimpinan daerah hingga nasional, dalam pandangan saya adalah suatu gagasan yang salah besar. Pola pikir ini adalah bagian dari pola pikir kaum birokratis dan pencari karir yang coba diinjeksikan kedalam draft RUU Kepemudaan tanpa melihat secara objektif idealisme dan daya kaum muda itu sendiri.
Satu pandangan menarik dari pidato Sri Sultan dalam acara yang sama amat penting untuk dipahami. Secara umum perjuangan dan berbagai revolusi di belahan dunia adalah karya besar kaum muda, namun demikian kaum muda patut bercermin dari semangat kamu muda angkatan ’08 dan ’28 yang menggoreskan tinta emas sejarah bangsa ini. Semangat yang sama mesti diolah kembali dengan mendasar pada masa lalu, masa kini dan masa depan.
Kaum muda, terutama mereka yang memang berjuang demi mewujudkan masyarakat sejahtera dan adil mesti berpikir dan berjuang bersama secara fokus. Hanya inilah jalan terbaik bagi kaum muda untuk dapat mendapat tempat di kancah kepemimpinan nasional dan terutama di hati masyarakat yang tengah jengah dengan kondisi bangsa ini. Kesan meminta kesempatan dari pemerintah mesti dihapuskan sebab kaum muda mampu menciptakan kesempatan, layaknya dalam sejarah.
Melalui solidaritas dan penemuan cita-cita bersama, ditopang oleh perjuangan kolektif maka kegagalan dari perjuangan sporadis akan segera terbayar. Sudah saatnya pula, PMKRI sebagai bagian garda depan kaum muda bangsa menemukan jalannya untuk bersatu dengan mereka yang juga berjalan menuju arah yang satu dan sama. Perbedaan ciri dan ideologi mestilah di selaraskan dengan adanya cita-cita atau impian bersama yang ingin diperjuangkan.
Melalui kesadaran dan tindakan bersama kaum muda akan menemukan jalannya. Jalan yang sama menuju impian akan Indonesia baru. Perubahan akan datang saat kita dengan sigap dan siap meninggalkan impian mencapai perjuangan kolektif dan menggantinya dengan spirit perjuangan kolektif menggapai impian.


Thomas sembirinK
PMKRI Sanctus Thomas Aquinas

Jumat, 23 Oktober 2009

The Sleeping Dictionary

I have watching it a few minutes ago. I've learn from this movie when I could closing my eyes at Wisma Drijarkara, this morning. This movie show me how the truth love will lending you out from your dark side. Love should be equal and need a sacrifice also. I'm so great full to take some enligtening this morning, even I should pay it with rearrangement my Sleeping Time.

WMD Semarang, 04.43

Kamis, 22 Oktober 2009

LIRIH HIDUP SARJANA


Pria itu sedang galau. Tampaknya ia tak tenang dan kegelisahan terpancar dari air mukanya. Sudah hampir sejam ia mondar-mandir di pelataran margasiswa menjelang temu anggota PMKRI St. Thomas Aquinas Yogyakarta sore itu.
Saat pertemuan yang mendiskusikan mengenai komersialisasi pendiidkan berlangsung, pun ia tetap tak bisa tenang. Gelisah dan menunjukkan ketidaknyamanannya. Sudah empat kali ia beranjak keluar dari ruang pertemuan. Kelima kalinya ia keluar ruangan seraya mengangkat ponselnya. Simamora yang menjadi moderator pertemuan tampak memperhatikan tingkahnya. Aku tersenyum saat sorot mata Simamora menuju arahku.
Usai pertemuan berlangsung, kutawarkan pada Simamora untuk mengajak pria itu ke Djambur, sebuah warung kopi di seputar UGM. Saat kami mengajaknya, tampak ia ragu sampai akhirnya mengangguk setuju. Dari margasiswa kami pun melaju.
Sekitar pukul 22.00 WIB saat kami tiba. Suasana lengang tak seramai biasanya. Tampaknya para mahasiswa dari Tanah Karo yang jadi pelanggan utama warung kopi tengah mudik liburan. Kami mengambil tempat di sisi utara. Sambil menuliskan pesanan sesekali aku mengarahkan pandangan ke layar televisi, pertandingan sepak bola antar klub Eropa tengah berlangsung.
Setelah menyerahkan pesanan, aku mengambil posisi yang nyaman sambil bersandar. Simamora mengangkat tangan pada beberapa kenalan yang melambaikan tangan kearah kami. Mataku menangkap jiwa yang hampa pada pria itu. Matanya seakan menerawang jauh.
Saat pelayan tiba, segera saja kusambut pesanan kami. Setelah menyampaikan terima kasih aku mengedarkan minuman. Pertama pada simamora yang duduk disebelahku dan berikutnya pada pria yang tengah gelisah itu.
“ Jana, bagianmu “ ujarku membuyarkan lamunannya.
“ O, iya “ sahutnya. Ia mengulurkan tangannya menyambut minuman ditanganku.
“ Tampaknya kamu sedang gelisah, Jana “ Simamora angkat bicara.
“ Apakah ada yang ingin kamu ceritakan” sambungku
Asep Sarjana menggelengkan kepala. Teman seperhimpunan dari Jawa Barat ini tampak menjaga sesuatu dari kami. Wajahnya menunjukkan keraguan untuk bercerita.
“ Bah, kalau tidak ada, mari kita main catur saja “ ujar Simamora sambil melirik kearahku. Saat itu gerimis mulai turun.
“ Sebenarnya … “ suara Sarjana tertahan
Simamora tampak tersenyum puas. Tawarannya bermain catur berhasil memancing pria itu untuk berbagi cerita. Aku menempatkan diri untuk mendengar apapun yang hendak diceritakan Sarjana.
“ Sebelum pertemuan tadi ayahku memberi kabar “ ujarnya dengan suara berat
“ Rumah kami di Kuningan menjadi korban perusakan dan pembakaran sekelompok massa “ sambungnya yang membuatku terperangah. Simamora mengernyitkan keningnya.
Sesaat setelah menegakkan kepalanya, ia kembali bercerita. Sore tadi di desanya terjadi aksi massa yang mengarah ke rumah salah seorang tetangganya. Massa itu datang dari luar desa dengan mengusung simbol organisasi mereka sambil meneriakkan penolakan terhadap tetangga Sarjana yang diduga terlibat dalam salah satu kelompok aliran sesat. Massa awalnya hanya berorasi menyampaikan penolakan saat ayahnya baru saja tiba. Namun selang beberapa waktu massa mulai menunjukkan sikap arogan dengan melempari rumah tetangga mereka. Ketua RT bersama ayahnya dan ditemani seorang kepala polisi yang tiba dengan belasan anggotanya berupaya menenangkan massa.
Himbauan dari aparat desa dan kepolisian setempat ternyata tidak digubris. Sebaliknya massa makin beringas dan keadaan makin tak terkendali. Aparat kepolisian dan warga setempat yang berusaha menenangkan tak mampu membendung aksi perusakan lebih lanjut. Rumah tetangganya dilempari dan beberapa rumah lain turut menjadi korban, termasuk rumah orangtua Sarjana. Kepanikan tak dapat dielakkan tatkala nyala api mulai tampak membubung dari sisi yang berlawanan. Ada oknum yang melemparkan botol bersumbukan api kearah rumah. Segera saja situasi tak terkendali. Beberapa warga terluka dan aparat tak mampu berbuat sesuatu untuk mengendalikan situasi.
Kejadian itu berlangsung dalam hitungan satu jam. Satu jam yang menghebohkan dan menimbulkan trauma bagi warga setempat. Ayah dan keluarga Sarjana berhasil menyelamatkan diri, namun rumah dan isinya terlanjur habis dilalap si jago merah.
Sarjana tampak emosional. Air mukanya berubah sedih bercampur geram. Simamora tertunduk lesu mendengar penuturan rekan kami itu. Aku sendiri tak dapat menyimpan keprihatinanku. Amarah bergejolak dalam diriku tak bisa menerima kalau keluarga yang tak berdaya itu harus kian menderita karena ulah oknum tak bertanggungjawab.
Aku kini bisa memahami apa yang terjadi dibalik kegelisahan Sarjana. Pastinya ia tengah mengkhawatirkan keluarga dan desanya. Saking emosinya hingga aku tak sadar mataku berkaca-kaca mendengar cerita pilu Sarjana.
Sulit bagiku membayangkan keadaan sarjana. Sebulan lalu pernah ia berkisah tentang susahnya kehidupan keluarganya. Tentang kesulitan ayahnya yang hanya seorang buruh tani untuk mengatasi tunggakan biaya studi dirinya dan empat orang adiknya.
Ayahnya yang bersahaja memiliki impian besar terhadap anaknya. Impian polosnya adalah bisa menyaksikan anaknya meraih gelar sarjana untuk memperbaiki keadaan keluarga. Impian yang dibangun sejak putera pertamanya lahir dan diberi nama Sarjana. Nama yang sarat dengan harapan.
Harapan yang sederhana itu pula yang membuat ayah Sarjana rela menjual tanah warisan keluarga demi membiayai kuliah Sarjana. Kendati puteranya bisa meraih beasiswa karena prestasi, tetap saja itu tak mampu menutupi berbagai kekurangan biaya studi dan biaya hidup. Sarjana masih harus kuliah sambil nyambi jadi loper koran.
Sisi lain dari kehidupan Sarjana itu yang membuatku merasa dekat dengannya. Aku bisa merasakan sesaknya kehidupan Sarjana yang tak jauh beda dengan kehidupanku. Sikap soliderku timbul, namun ia tak cukup mengatasi perih hidup Sarjana.
“ Besok pagi aku segera ke sana “ suara pelan Sarjana mengusik batinku
Sebulan lalu saat Sarjana dan aku berbagi cerita kehidupan, kami masih bisa saling menguatkan. Ia masih bisa tersenyum tegar mendengar saranku. Namun saat ini semua berbeda. Mendengar kisahnya, aku kehilangan kata-kata. Tak mampu memberinya saran kecuali sebuah tatapan penuh arti. Sekarang sebuah diskusi dan proses dialektika jadi mati rasa. Ia kehilangan daya dorong perubahannya dan tak berarti dalam cerita kepiluan hati.
Sarjana kini sama denganku dan puluhan juta sarjana lain yang hidup di kubangan ketidakadilan. Ia kini menjadi bagian dari objek diskusi Jumat malam dan pemeran dari kisah pilu kehidupan. Lemah dalam ketidakberdayaan terhadap sistem yang menindas.
Langit semakin gelap dan hujan makin deras mengguyur kota Jogja. Kami larut dalam kebisuan dan dinginnya hawa malam. Segelas kopi terabaikan dan kian dingin tanpa disentuh. Seandainya perihnya penderitaan sama cepatnya berlalu seperti kehangatan segelas kopi.

Yogyakarta menjelang Natal 2007